Di Indonesia menganut system
pemerintahan yakni Demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila itu sendiri memilik
arti demokrasi yang mengutamakan pelaksanaan musyawarah dan menghasilkan
mufakat tanpa penentangan dari pihak manapun. Tetapi kenyataannya, pada pemilu
tahun 2009 angka golput di Indonesia
mencapai 49 juta orang. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memprediksi bahwa
masyarakat golput dalam kasus pemilu dan pilkada akan meningkat. Kita bisa
menoleh kebelakang untuk melihat pada pilkada DKI tahun 2012 yang tercatat
angka golput mencapai 37,05%. Berbeda dengan tahun ini pilkada Bali tercatat
mencapai 32,05%, disusul oleh pilkada Jabar yang mencapai 36,15%, yang ketiga
disusul oleh pilkada Jateng yang mencapai 50%, dan pada puncaknya adalah
pilkada Sumut yang melebihi pilkada daerah lain yakni mencapai 54%.
Pada pemilu tahun 2014 nanti
sangat melebihi pada pemilu-pemilu sebelumnya. Mengapa demikian, karena di
tahun itu banyak sekali kader Partai Politik yang terjerat kasus-kasus yang merugikan
rakyat seperti kasus skandal korupsi, kasus pencucian uang, kasus narkoba, kasus
skandal seks bebas, dan masih banyak lagi yang melibatkan para anggota dewan
tersebut. Seharusnya anggota dewan itu tidak malah bersenang-senang di atas
penderitaan rakyat. Akan tetapi, anggota dewan itu lebih pro dengan rakyat dengan
memberikan fasilitas yang cukup untuk mereka rakyat yang tidak mampu dari pada
uang tersebut di buat hal-hal yang mengakibatkan dosa lebih baik membuahkan
pahala.
Tidak hanya di Indonesia saja
tetapi di Negara lain juga mengenal golput. Menurut Robert P Clark dalam
penelitiannya bahwa di Negara berkembang telah mengembangkan demokrasi melalui
pemilu seperti Negara Brazil, Nigeria, Tanzania, Meksiko, dan India yang hanya
memiliki tingkat partisipasi hanya mencapai 64,5% dan sisanya yang 35,5% ini
kemana? Bahkan di Negara maju yang demokrasinya sudah maju seperti Amerika
Serikat tingkat partisipasi pemilu mereka hanya mencapai setengah dari penduduk
keseluruhan Amerika Serikat. Berbeda dengan Negara Inggris, yang lebih
mengutamakan strata sosial yang mana jumlah golput dikalangan masyarakat kelas
atas cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat kelas bawah. Ternyata tidak hanya di negara Indonesia saja yang memilih untuk golput
yang mereka tak puas dengan calon-calon yang ada, tetapi di negara lain juga
ada yang seperti itu. Yang terkadang ketidakpuasan mereka bisa mengakibatkan
konflik antara warga, calon, dan penegak hukum tersebut, tapi entah sampai
kapan golput hilang di muka bumi ini. Yang mana menunggu calon-calon pemerintah
yang sesuai keinginan mereka baru golput itu akan lenyap di muka bumi dan di negeri tercinta ini..


